“Nah gini dong negara tuh fasilitas buat rakyatnya mumpuni, sama rasa sama rata!” Gue berdecak mengagumi fasilitas playground anak di tengah taman kota Moscow, yang kelihatan kinclong masi baru kayak habis dibuka dari plastik, mirip dengan setting Gymboree kalau di Mall di Indonesia, yang bayar jam-jam-an.
Itu adalah hari ketiga gue di Moscow, dan sejak menjejakkan kaki di ibukota Rusia itu, tak berhenti gue ber-hah-hoh-hah-hoh. Singapura yang artsy, begitu gue mengibaratkannya. Tata kotanya dibangun sangat grande, nggak ada model gang senggol bacok, kayak udah dipikirin dari dulu dan dijalankan dengan penuh amanah. Curiga ga ada tukar guling lahan.
Fasilitas umum begitu terjaga, dengan metro yang liwat semenit sekali sampai dikasi timer detiknya. Setiap stasiun metro bak galeri seni, dihias cantik mulai dari lukisan mozaik, patung-patung, hingga yang futuristik. Jalanan lebar bersih kinclong karena dicuci setiap hari. Iya, digosok oleh mobil besar yang ngalah-ngalahin armada pemadaman kebakaran hutan Kalimantan.
Semua bangunan kuno, macam si Gereja es krim atau kompleks Kremlin nggak lusuh kurang dana renovasi kayak di Eropa. Semua bersinar, bak habis dicat ulang. Demikian juga gedung pemerintahan dan fasilitas umum lainnya. Nyaman, bersih, rapi, aman, tapi juga cantik.
Membuat gue saat itu bertanya-tanya apakah inilah sebuah tanda kejayaan satu paham ideologi yang dianut negara ini: Komunisme?